Dinamika Peternakan Sapi Perah Cigugurgirang: Mengubah Modal Desa Menjadi Simpul Ekonomi Rakyat


 Bandung Barat - 20 Januari 2026. Di sudut Kampung Panyairan, RT 03 RW 02, Desa Cigugurgirang, Kecamatan Parongpong, deru mesin pencacah rumput dan aroma khas pakan ternak menjadi harmoni pagi yang penuh harapan. Di sebuah kandang yang disewa untuk jangka panjang, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Cigugurgirang sedang merajut mimpi besar: mewujudkan ketahanan pangan mandiri melalui unit peternakan sapi perah.

Sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat ketahanan pangan nasional, Pemerintah Desa Cigugurgirang telah mengalokasikan sekitar 20 persen dana desa atau setara Rp340.000.000 untuk penyertaan modal awal. Dana tersebut diwujudkan dalam bentuk 10 ekor sapi perah yang kini menjadi aset berharga desa.

Admin Unit BUMDes Cigugurgirang, Sandi Sumirat, mengungkapkan bahwa meski program ini baru berjalan sekitar empat bulan, geliat ekonomi sudah mulai terasa. Dari 10 ekor sapi yang ada, tiga ekor di antaranya telah produktif menghasilkan susu, sementara sisanya tengah dalam masa kering kandang atau persiapan pascamelahirkan.

"Alhamdulillah, dari awal pembelian hingga sekarang sudah mulai menghasilkan produksi susu. Saat ini, satu ekor sapi rata-rata menghasilkan 12 liter per hari," ujar Sandi saat ditemui di lokasi, Senin (19/1).

Namun, Sandi bersikap realistis. Mengelola peternakan di tengah fluktuasi biaya operasional bukanlah perkara mudah. Dengan Harga Pokok Produksi (HPP) mencapai Rp96.500 per ekor setiap harinya yang mencakup pakan konsentrat, ampas tahu, rumput, hingga upah tenaga kerja—hasil penjualan susu saat ini baru cukup untuk menutupi biaya operasional.

Susu segar tersebut dijual ke koperasi mitra dengan harga Rp7.500 per liter. Harga ini sudah mencakup jaminan asuransi kesehatan ternak, sebuah langkah preventif untuk menjaga aset desa dari risiko penyakit. "Secara perhitungan, hasil susu belum menjadi keuntungan bersih. Fokus kami saat ini adalah memastikan operasional harian stabil. Keuntungan utama nantinya diharapkan berasal dari anakan sapi," tambahnya.

Tantangan di lapangan pun tak luput dari perhatian. Lokasi kandang yang menjorok ke dalam menuntut biaya angkut pakan tambahan. Belum lagi faktor cuaca hujan yang kerap menurunkan produktivitas susu. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat pengelola.

Ke depan, BUMDes Cigugurgirang mematok target ambisius. Mereka berencana melakukan inovasi pengolahan susu secara mandiri agar memiliki nilai tambah. Produk olahan tersebut nantinya diproyeksikan untuk menyuplai program Satuan Pelayanan Persiapan Gizi (SPPG), sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, terutama kalangan pelajar dan mahasiswa.

Melalui dedikasi dua personel di lapangan dan manajemen yang transparan, Desa Cigugurgirang membuktikan bahwa dana desa, jika dikelola dengan ketulusan dan profesionalisme, mampu menjadi motor penggerak kesejahteraan yang berkelanjutan.

Asep Salman

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Android