TRAGI-KOMEDI DI BALIK BENANG GELASAN: Hobi yang Menjaga Tradisi atau Mengintai Nyawa?


 BANDUNG, 2 MEI 2026 – Langit sore yang cerah seharusnya menjadi saksi bisu keindahan tradisi, bukan menjadi saksi jatuhnya air mata dan tumpahnya darah. Di tengah semaraknya warga melestarikan budaya bermain layang-layang, sebuah peringatan keras muncul ke permukaan: Benang layangan bukan sekadar alat permainan, tapi bisa menjadi senjata tajam yang mematikan.

​Antara Tradisi dan Tragedi

​Perkumpulan Pelayang Seluruh Indonesia (PELANGI) Provinsi Jawa Barat hari ini merilis himbauan resmi terkait keamanan dalam bermain layang-layang. Dalam rilisnya, PELANGI menekankan bahwa bermain layang-layang adalah olahraga positif yang menjaga akar budaya bangsa. Namun, keindahan itu seketika sirna jika dilakukan di tempat yang salah.

​"Bermainlah di tempat yang aman dan luas. Jauhkan dari jalan raya dan jaringan kabel listrik," tegas Humas PELANGI Jawa Barat.

​Ancaman Tak Terlihat di Jalan Raya

​Ilustrasi yang beredar di masyarakat (seperti pada gambar kedua) memberikan gambaran nyata betapa fatalnya dampak benang layangan yang melintang di jalan raya. Seorang pengendara motor bisa seketika menjadi korban akibat benang yang sulit terlihat mata, namun cukup tajam untuk melukai leher atau anggota tubuh lainnya.

​Kenapa ini berbahaya?

​Kecepatan Kendaraan: Gesekan benang pada kecepatan tinggi meningkatkan daya potong benang (terutama jenis gelasan).

​Lokasi Tak Terduga: Benang dari layangan putus seringkali menjuntai rendah di tengah jalan.

​Risiko Listrik: Selain bagi pengendara, benang yang menyangkut di kabel listrik berisiko menyebabkan pemadaman massal hingga korsleting yang membahayakan nyawa pemainnya sendiri.

​Tips Aman Menikmati Langit:

​Cari Lapangan Terbuka: Pastikan radius sejauh mata memandang bebas dari kabel listrik dan lalu lalang kendaraan.

​Pantau Angin: Jangan memaksakan bermain jika arah angin membawa layangan menuju area padat penduduk atau jalan raya.

​Segera Gulung Benang Putus: Jika layangan putus, pastikan sisa benang tidak menjuntai ke jalan yang bisa mencelakai orang lain.

​Mari kita jaga tradisi tanpa harus meneteskan air mata. Jangan biarkan kegembiraan di atas langit berubah menjadi duka di aspal jalanan.

​Sumber Media:

Humas PELANGI Jawa Barat

Provinsi Jawa Barat, Indonesia

(Red).

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Android