Bandung Barat, 29 Oktober 2025 – Sebagai respons atas kondisi darurat sampah yang melanda Bandung Raya, masyarakat di Dapil 3 Bandung Barat (Cisarua, Parongpong, dan Lembang) menggalakkan gerakan pilah dan olah sampah dari sumbernya. Inisiatif ini bertujuan mengubah paradigma lama "kumpul-angkut-buang" menjadi pengelolaan yang bernilai ekonomi.
Dr. Ir. Mohamad Satori, MT., IPU, pakar lingkungan yang hadir sebagai narasumber, membuka acara dengan peringatan keras. "TPA Sarimukti sudah overload. Kita tidak bisa lagi bergantung pada sistem lama," tegasnya. Ia menekankan bahwa solusi sebenarnya terletak pada pemilahan sampah di setiap rumah tangga, yang kemudian dapat dikelola melalui bank sampah di tingkat RW.
Kegiatan yang digelar ini tidak berhenti pada teori. Masyarakat diperkenalkan dengan beragam solusi praktis, mulai dari Composter Takakura dan Lubang Biopori untuk skala rumah tangga, hingga teknologi biodigester dan budidaya maggot untuk skala komunitas. Inovasi lokal seperti Bata Terawang Generasi 3 juga diperkenalkan untuk mempercepat pengomposan.
Dukungan penuh datang dari pemerintah kecamatan. Witarsa, perwakilan Camat Cisarua, mendorong warga untuk menjadikan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) sebagai kebiasaan sehari-hari, bukan sekadar slogan.
Dengan semangat baru ini, sampah yang semula dipandang sebagai beban, kini dilihat sebagai peluang. Gerakan kecil memilah sampah dari rumah ini diharapkan dapat berkontribusi signifikan menciptakan Bandung Barat yang lebih bersih, mandiri, dan berkelanjutan.

