Lautan Jemaah di Parongpong: Refleksi Isra Mi’raj dan Pesan Mendalam Ustadz Nana Gerhana Tentang Amanah



BANDUNG BARAT, RIN - 19 Januari 2026. Di bawah langit Desa Karyawangi yang sejuk, ribuan pasang mata tertuju pada satu panggung besar yang berdiri kokoh di wilayah RT 04 RW 04, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat. Hari ini, Senin (19/1/2026), kerinduan masyarakat akan siraman rohani yang mendalam tampak nyata dalam gelaran Tabligh Akbar memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah.

Acara yang diinisiasi oleh pengurus DKM Masjid Jami Al-Hidayah bersama warga setempat ini menghadirkan penceramah kondang, Ustadz Nana Gerhana. Kehadiran sosok yang tengah dikenal luas di media sosial ini menjadi magnet luar biasa. Tak kurang dari enam wilayah RW dan berbagai pengurus DKM dari luar daerah turut hadir memadati area acara.

Ketua DKM Masjid Jami Al-Hidayah, Ustadz Jamaludin, mengungkapkan rasa syukur atas antusiasme warga yang melampaui ekspektasi. "Alhamdulillah, warga sangat antusias. Biasanya tiap tahun diisi oleh ustaz-ustaz lain, namun sekarang bisa menghadirkan Ustadz Nana Gerhana. Warga sangat semangat karena ini baru pertama kali hadir di sini," ujarnya di sela-sela acara.

Suasana semakin menyentuh saat panggung diisi oleh penampilan para santri dari jenjang TK hingga SMA di bawah naungan Pesantren Madinatoul Ulum. Dengan balutan pakaian muslim yang rapi, anak-anak tersebut menunjukkan keberanian tampil di depan publik, sebuah momentum yang menurut Jamaludin menjadi kebanggaan tersendiri bagi mereka.

Kegiatan mulia ini terselenggara berkat kolaborasi erat antara DKM, Yayasan Madinatour Ulum yang diketuai oleh Tuti Sumiati, serta Pesantren Madinatoul Ulum yang dipimpin Dr. Azid Hakim. Dukungan juga mengalir dari donatur tetap, HTN Mandiri Sayur Mayur milik Haji Usep Purqon dan Hajah Wiwin, yang menunjukkan kuatnya kepedulian sosial di lingkungan tersebut.

Dalam tausiyahnya yang bernada lugas namun sarat makna, Ustadz Nana Gerhana memberikan sorotan tajam pada krisis nilai yang melanda masyarakat modern. Ia menekankan bahwa modernisasi sering kali menjadi pedang bermata dua yang merusak moral jika tidak dibarengi dengan pendidikan adab sejak dini.

"Pendidikan anak dimulai dari rumah. Jika orang tua baik, berakhlak, dan mendidik dengan benar, maka anak pun akan tumbuh menjadi pribadi yang baik," tegas Ustadz Nana di hadapan jemaah. Ia mengingatkan bahwa harta dan jabatan adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak.

Lebih jauh, ia menyentil fenomena keserakahan yang sering menjadi akar bencana sosial. Menurutnya, agama tidak boleh hanya dicari saat dalam kesulitan atau dijadikan simbol formalitas belaka. Ia mengibaratkan hilangnya keadilan sebagai "kiamat kecil" dalam kehidupan sosial. "Dunia akan hancur jika para pemimpin ingkar janji, zalim kepada rakyat, dan tidak memiliki kepedulian sosial," tambahnya.

Saat diwawancarai secara khusus, Ustadz Nana menitipkan pesan mendalam bagi generasi muda mengenai makna esensial Isra Mi'raj. Ia menyebut peristiwa tersebut bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan keimanan. "Makna Isra adalah perjalanan. Maka manusia juga harus terus berjalan dalam kebaikan, dalam kebenaran, dan tidak menyimpang. Jangan sampai tergelincir oleh hawa nafsu," pesannya dengan nada tenang.

Tabligh Akbar ini ditutup dengan doa bersama, membawa harapan agar peringatan ini tidak hanya menjadi seremonial tahunan, tetapi menjadi bekal nyata dalam memperbaiki akhlak di tengah masyarakat. Melalui kegiatan ini, Desa Karyawangi seolah mengirimkan pesan bahwa di tengah gempuran duniawi, nilai kejujuran dan kepedulian harus tetap menjadi fondasi utama kehidupan.

Asep Salman

إرسال تعليق

أحدث أقدم

Android