Ripqi menjelaskan bahwa kegiatan sosialisasi ini merupakan bagian dari prioritas nasional KPU, yang mencakup pendidikan pemilih dan pemutakhiran data pemilih berkelanjutan (PDPB). Kali ini, sasaran sosialisasi diarahkan pada segmen civil society atau masyarakat sipil.
Meskipun tingkat partisipasi pemilih di Kabupaten Bandung Barat tergolong cukup tinggi secara statistik, Ripqi menyebut tantangan sebenarnya adalah meningkatkan kualitas keterlibatan masyarakat di bilik suara.
"Harapan ke depan, Kabupaten Bandung Barat yang partisipasinya secara angka sudah lumayan di angka 84%, bisa meningkat secara kualitas. Kita ingin pemilih yang berkualitas, cerdas, dan rasional," ujar Ripqi.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pemilih yang cerdas adalah mereka yang datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) dengan bekal informasi yang cukup mengenai calon pemimpinnya. Ia mengimbau agar masyarakat tidak asal pilih, melainkan menelaah rekam jejak dan tawaran program para kandidat.
"Pemilih yang cerdas adalah pemilih yang datang ke TPS betul-betul berdasarkan visi-misi calon, program calon, dan tentunya sesuai hati nurani," pungkasnya.
Langkah ini diharapkan dapat memperkuat legitimasi hasil pemilu serta memastikan pemimpin yang terpilih benar-benar sesuai dengan harapan masyarakat Bandung Barat.
Asep Salman

