GEOTHEATER HAWU PABEASAN, Pesona Wisata Edukasi Ramah Lingkungan di Padalarang


 Kabupaten Bandung Barat kaya akan pesona alamnya memukau. Hamparan gunung dan bebatuan menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung yang ingin menikmatinya. 

Geotheater Hawu Pabeasan salah satunya. Destinasi wisata yang berlokasi di Cibakung Cidadap Desa Padalarang ini menyajikan pemandangan dan suasana yang cukup unik dan berbeda dengan yang lain. Perpaduan antara bebukitan, hamparan pesawahan dan gunung batu Kapur yang menjulang membuat penasaran wisatawan untuk mengunjungi tempat ini.

Sesuai namanya, Geotheater merupakan wahana pertunjukan kebumian yang menyajikan keindahan alam dan pusaka bumi, seolah panggung pertunjukkan yang gagah dan megah. Dari tempat inilah kita dapat menyaksikan pemandangan tebing yang menjulang, lekukan bebatuan yang menawan dan ceruk-ceruk goa yang terlihat jelas dari pandangan. Panggung pertunjukan tersebut adalah  gunung Hawu dan Pabeasan. Terlihat indah dan memukau dari arah Cibakung Cidadap Padalarang.

Dalam bahasa Sunda, Hawu yang kita kenal merupakan tungku kayu tempat memasak orang terdahulu dan sebagian masyarakat sekarang. Layaknya tungku, depannya bolong untuk menyimpan kayu bakar dan atasnya juga bolong agar api dapat memanaskan masakan yang ada di atasnya. Demikian pula bentukan alam gunung Hawu menyerupai tempat memasak yang kita kenal sebagai tungku kayu bakar.

Bersebelahan dengan gunung Hawu, ada gunung Pabeasan. Berasal dari kata "Beas", dalam bahasa Indonesia dikenal dengan beras. Pabeasan berarti Perberasan. Terbukti, gunung Pabeasan menyerupai gundukan beras yang menjadi makanan pokok kita sehari-hari. Seolah Hawu dan Pabeasan menjadi simbol kebutuhan primer hidup manusia. "Masyarakat sekitar mempopulerkan HAWU menjadi singkatan dari Hirupkeun Alam Waluyakeun Umat manusa' dan PABEASAN singkatan dari 'Pateahkeun Belaan Anu Sangsara" Ujar Deden Pengelola Geotheater.

Menurut kajian Geologi, Gunung Hawu dan Pabeasan sendiri merupakan salah satu bagian yang tidak terpisahkan dari bentang Alam Karst Citatah-Rajamandala, Gunung batuan gamping yang terhampar dari Padalarang hingga Rajamandala bahkan tersambung hingga kecamatan Haurwangi Kabupaten Cianjur. Kawasan ini dikenal merupakan kawasan lindung karena bentuknya yang unik dan memiliki sejarah kebumian yang panjang dan sangat bernilai bagi kehidupan umat manusia. Disinyalir pembentukan alamnya telah melalui proses panjang sekitar 24-30 juta tahun. Dahulu kala, Kawasan Karst ini adalah batuan karang yang berada di dasar lautan dangkal yang kemudian setelah melalui proses geologi selama jutaan tahun terangkat ke permukaan bumi menjadi gunung batu gamping/kapur yang kita saksikan hari ini.

Hawu dan Pabeasan pernah menjadi aktifitas galian tambang batu kapur untuk industri sejak puluhan tahun yang lalu. Meski sebagian masih ditambang, sisanya kini menjadi panorama tersendiri dan menjadi tempat yang banyak dikunjungi oleh para wisatawan untuk sekedar rekreasi, makan bersama, jogging, hiking, out bond, camping, tempat nongkrong dan bermain yang murah dan terjangkau.

Tidak hanya rekreasi biasa, wahana ini dilengkapi dengan papan edukasi dan informasi. Sehingga, selain dapat langsung menyaksikan ketakjuban alamnya, pengunjung bisa mendapatkan informasi dan belajar tentang alam, kebumian dan lingkungan hidup setempat.

Di samping itu, wahana Geotheater Hawu Pabeasan dilengkapi dengan Wahana edukasi Kampung Iklim Berbudaya Lingkungan (Ecovillage) Cidadap, Taman Buah Langka dan Lokal Nusantara (Pranaraksa Center) dan juga Wisata Tebing ekstrem yang menguji adrenalin pengunjung. Wahana ini menjadi pilihan kegiatan Outing Class dan field trip.

"Kami menyediakan beberapa program daya tarik, sehingga pengunjung tidak hanya berwisata, tapi juga dapat belajar, beraktifitas, dan tentunya menikmati wahana kami. Mudah-mudahan pengunjung memahami arti penting pelestarian lingkungan" Ujar Antoni salah satu pengelola.

Di Ecovillage Cidadap, pengunjung dapat belajar bagaimana mengelola sampah melalui Bank Sampah Produktif, komposting cair, ketahanan pangan organik, dan ketahanan sumber daya air. Begitu pula, di Ecovillage ini anak-anak lokal diajarkan kemampuan panjat tebing dasar melalui Boulderan Wall Climbing Training Center. Beberapa anak pernah menjadi juara panjat tebing di tingkat regional maupun Nasional.

"Di sini pengunjung diajarkan bagaimana mengelola lingkungan hidup agar tetap asri dan warganya produktif" Ujar Nia pengurus Ecovillage.

Di Pranaraksa Center, pengunjung belajar bagaimana melestarikan dan mengenali jenis buah langka dan lokal Nusantara. Taman buah yang berada di Bukit Puter dan Cibakung ini berjumlah 1.500 pohon terdiri dari 50an jenis buah seperti Jamblang, mundu, bisbul, matoa, sempur, alkesa dan lain-lain, ditanam sejak tahun 2019 dan 2021. Untuk menuju Geotheater, pengunjung berjalan kaki menyusuri perkebunan taman buah ini sambil menikmati suasana hijau dan asri.

"Kami berusaha terus merawat dan memupuknya secara berkala. Sebagian sudah ada yang berbuah" Kata Ajang salah satu petani Pranaraksa.

Tidak kalah menarik dan menantang, pengunjung minat khusus berani menikmati sekaligus menguji adrenalin mereka dengan wisata ekstrem tebing Hawu. Aktifitas ini meliputi panjat tebing (climbing), rappeling, hingga hamocking di atas tebing. Warga setempat mengandalkan keahlian mereka di bidang panjat tebing dan tentunya dengan prosedur keselamatan dan keamanan yang memadai. Inilah cara warga setempat menjadikan wahana unik ini dengan menjadikannya sebagai tempat bermain. "Jangan khawatir, peralatan keselamatannya lengkap dan utama. Yang penting sambil bermain kita lestarikan alam kita" Ujar Deni Pokdarwis Tebing Hawu.

Seiring dengan lahan yang semakin menyempit oleh kegiatan pembangunan, gunung-gunung yang terus digerus, lingkungan hidup yang kian terancam dan rusak, warga tidak berputus asa. Jika dikelola dengan bijak, potensi alam yang tersedia, lahan milik masyarakat, dan sumber daya manusia lokal yang konsisten dan peduli membawa keberkahan tersendiri bagi masyarakatnya, bahkan mungkin kebanggaan tersendiri bagi pemerintah. Sukses atas kolaborasi semua pihak baik itu masyarakat, pemerintah, dunia usaha, dunia pendidikan dan media.

Kini, pengelola Geotheater Hawu Pabeasan sedang terus berbenah dan belajar melayani para pengunjung. Agar alam ini tetap dapat menyuguhkan keindahan, keasrian dan keberlangsungan lingkungan hidup untuk dinikmati bukan hanya untuk kita hari ini tapi untuk generasi mendatang, dengan tanpa merusak dan memperlakukannya secara serakah. Banyak cara mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam ini. "Dengan mewujudkannya sebagai wahana rekreasi, edukasi dan konservasi, menjadi salah satu pilihan penting bagi kami agar alam ini tetap menjaga kita semua. Kita jaga alam, alam jaga kita" Pungkas Deden.

Wartawan: Asep Salman 

Editor: Aep Saripudin 

Posting Komentar

0 Komentar