Fokus Pemulihan Ekonomi Pascabencana, Pemdes Pasirlangu Optimalkan Otonomi Desa


 Kabupaten Bandung Barat — Pemerintah Desa (Pemdes) Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat terus mengambil langkah cepat dan strategis guna memulihkan kondisi sosial dan ekonomi warga terdampak bencana tanah longsor yang melanda wilayah tersebut pada Sabtu, 24 Januari 2026 lalu.

Dalam wawancara eksklusif bersama wartawan ragam indonesia news, Kepala Desa Pasirlangu, Awaludin Lubis, menegaskan bahwa fokus utama jajaran pemerintah desa saat ini adalah membangkitkan kembali roda perekonomian warga, khususnya para petani yang kehilangan lahan mata pencaharian akibat tergerus longsor.

Kades Awaludin Lubis menjelaskan bahwa sejak awal terjadinya bencana, Pemerintah Desa Pasirlangu berkomitmen untuk tidak membuka keran donasi secara terbuka (open donasi). Kebijakan tersebut diambil agar pengelolaan bantuan finansial dari para donatur dapat dikelola secara mandiri dan fleksibel melalui mekanisme otonomi dan otoritas desa.

"Alhamdulillah, Desa Pasirlangu dari awal tidak membuka open donasi. Sehingga uang yang masuk dari para donatur, kebijakannya ada di otonomi desa. Berdasarkan hasil berita acara musyawarah desa, Pemdes Pasirlangu mengambil sikap untuk mengalokasikan sebagian uang donasi tersebut bagi pembenahan ekonomi warga," ujar Awaludin.

Langkah ini juga diambil agar kebijakan desa tetap berjalan di koridor yang tepat dan tidak terjerat oleh regulasi atau perundang-undangan ketat terkait pengumpulan dana dari Kementerian Sosial.

Hingga saat ini, proses pemulihan sosial dan fisik di lapangan telah berjalan selama kurang lebih satu setengah bulan. Pemdes Pasirlangu berfokus pada pembentukan kembali akses jalan yang terputus serta membenahi lahan-lahan pertanian yang masih memungkinkan untuk diselamatkan.

Selain pemulihan secara fisik, program pembenahan ini secara tidak langsung berfungsi sebagai trauma healing bagi warga setempat. Kehilangan tempat tinggal dan ditetapkannya status 'Zona Merah' berdasarkan rujukan geologi sempat memukul psikologis masyarakat. Berdasarkan data rujukan, terdapat sedikitnya 32 titik prioritas yang menjadi tanggung jawab bersama, termasuk perlunya kehadiran negara melalui Pemerintah Kabupaten Bandung Barat untuk penanganan zona merah tersebut.

Meski demikian, geliat dan semangat warga kini mulai tumbuh kembali seiring dengan hadirnya bantuan nyata dari desa.

"Secara psikologis mungkin tidak langsung kembali 100 persen, tetapi semangat mereka untuk berjuang melanjutkan kehidupan alhamdulillah mulai terlihat setelah lahan-lahan bercocok tanam mereka dibenahi oleh pemerintah desa," tambahnya.

Terkait karakteristik wilayah yang terdampak longsor, Awaludin Lubis memaparkan bahwa lahan yang tergerus mayoritas merupakan lahan pertanian hortikultura campuran, khususnya di wilayah RW 10 dan RW 11.

Berbeda dengan wilayah RW lain di Desa Pasirlangu yang memiliki komoditas khusus—seperti RW 1, 2, 3, dan 4 yang berfokus pada budidaya paprika, atau RW 5, 6, dan 10 yang berfokus pada bunga potong—wilayah yang terdampak longsor ini merupakan sentra petani hortikultura dengan jenis tanaman yang lebih variatif (campuran).

Saat ini, warga dan pihak pemdes sangat berharap agar curah hujan dapat terus mendukung aktivitas pertanian dalam beberapa bulan ke depan, mengingat sistem pengairan di lahan pertanian terdampak masih sangat mengandalkan air hujan.

Laporan: Asep Salman

Editor: Aep Saripudin 

Posting Komentar

0 Komentar